Perbanyak Ingat Mati dan Baca Alquran

Cara Membersihkan Hati yang Berkarat

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


   HATI (al-Qalbu) merupakan unsur terpenting dalam diri seorang manusia. Baik buruknya perbuatan yang dilakukan seseorang berbanding lurus keadaan hati, karena ia menjadi controller (penentu) atas segelanya. Keikhlasan, keimanan dan ketakwaan terletak di dalam hati dan juga rasa takut, risau serta cemas bermuara dari hati. Maka itu sebabnya baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menekankan agar menjaganya dengan baik, sebab apabila keadaan hati baik maka seluruh amal akan ikut baik. Namun ketika suasana hati buruk, maka seluruh amal akan terpengaruh dan ikut buruk. Selain itu, baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengumpamakan hati ibarat besi yang bisa rusak dan berkarat.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ». قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا جِلَاؤُهَا؟ قَالَ: «كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ».

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya hati-hati ini dapat berkarat sebagaimana besi berkarat apabila terkena air." Lalu ditanyakan: "Wahai Rasulullah, apakah yang dapat mengilapkannya (membersihkannya)?" Beliau menjawab: "Banyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur'an." (HR. Baihaqi)

Hadis di atas menjelaskan tentang kondisi hati, di mana bila seseorang tidak menjaganya dengan baik niscaya akan berkarat layaknya sebatang besi. Oleh sebab itu, baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memberi resep agar tetap bersih dan suci dengan banyak mengingat kematian dan merutinkan bacaan Al-Qur’an. Dua resep ini sesungguhnya sangat penting mengingat fakto-faktor pemicu hati berkarat begitu banyak seperti sifat hasad, iri hati, dengki, merasa paling hebat, pamer, tamak, sombong, kikir dan dendam.

Sulthan Ali Al-Qârî berkata: Mengistilahkan kematian dengan penasihat yang tidak berbicara. (Murqâtul Mafâtîh Syarhu Misykâtul Mashâbîh, 7/244). Perumpamaan tersebut sangat tepat sebab terkadang banyak orang-orang yang tidak sadar kala diberi nasihat lisan, namun betapa cepat insyaf saat menyaksikan orang-orang terdekatnya meninggal. Rasulullah saw memberi nasihat kepada umar dan sahabat dengan berkata: kafâ bil-mauti wâ’izha ya Umar (Cukuplah kematian sebagai penasihat wahai Umar). (Muhammad Ar-Rifâ’i, Al-Haqîtul Bâhirah fî asrâtissyarî’atilt Thâhirah, 233).

Dalam riwayat lain disebutkan, pemutus segala kenikmatan dunia ialah ingat mati (zikurmaut).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (kenikmatan)." (HR. Tirmidi, Nasa'i dan Ibn Majah)

Riwayat di atas menjelasan bahwa mengingat mati mati dapat memutus kenikatan harta, jabatan, keluarga, kemewahan, dan berbagai kesenangan dunia akan berakhir ketika seseorang meninggal dunia.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kematian merupakan nasihat yang paling efektif bagi manusia. Nasihat lisan terkadang tidak mampu menggugah hati yang lalai, tetapi peristiwa kematian sering kali mampu menyadarkan seseorang tentang hakikat kehidupan, kefanaan dunia, dan kepastian datangnya akhirat.

Adapun cara selanjutnya untuk mengikis karat hati ialah membaca Al-Qur’an. Sebab salah satu fungsi Al-Qur’an diturunkan sebagai syifa’ (penyembuh) terhadap penyakit-penyakit hati.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Isra': 82)

Menurut Imam an-Nasafi, makna penawar adalah penyembuh dari penyakit-penyakit hati. (Madāriku at-Tanzil wa Haqāiqu at-Ta’wil, 2/273). Muhammad Al-Amin Al-Harari mengilustrasikan Al-Qur’an layaknya seorang dokter yang berprofesi mengobati orang-orang sakit. Namun sakit yang disembuhkan Al-Qur’an bukan bersifat lahiriah yang bisa dilihat dengan kacamata sains, tetapi rusaknya akhlak dan buruk perilaku merupakan penyakit yang hanya bisa diobati dengan Al-Qur’an. (Tafsîr Hadâiqurauhi war raihâni, 12/280). Dalam pandangan Prof. Hikmat Basyir Yasin -ulama kelahiran Mosul Irak - menerangkan bahwa Al-Qur’an dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan tercela. (At-Tafsîr As-Shahîh, 3/24).

Berdasarkan penjelasan para ulama tersebut, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an merupakan penawar yang efektif bagi berbagai penyakit hati dan kerusakan moral manusia. Penyembuhan yang diberikan Al-Qur’an tidak terbatas pada aspek fisik, melainkan terutama pada aspek spiritual dan akhlak. Al-Qur’an membersihkan hati dari berbagai penyakit seperti kesombongan, hasad, riya', cinta dunia, dan kelalaian, sekaligus membimbing manusia menuju akhlak yang mulia dan perilaku yang benar.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dimpulankan bahwasanya hati merupakan pusat kendali kehidupan manusia yang menentukan baik buruknya perilaku, keimanan, dan akhlaknya. Namun, sebagaimana besi yang dapat berkarat, hati juga dapat tertutupi oleh berbagai penyakit spiritual seperti hasad, riya’, kesombongan, cinta dunia, dan kelalaian. Karena itu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memberikan dua sarana utama untuk membersihkan dan mengilapkan hati, yaitu memperbanyak mengingat kematian (zikrul maut) dan membaca Al-Qur’an.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar